Semua Pasti Ada Hikmahnya


Suatu hari, saat pembagian raport semesteran, anakku dinyatakan enggak lulus untuk pelajaran tahsinnya. Kaget? Pasti lah. Selama ini, aku merasa anakku cukup bagus kok baca Al-Qur'annya. Makhraj, tajwid, bahkan panjang pendeknya juga dia bisa. Aneh banget kan kalau dinyatakan enggak lulus. 

Setelah aku tanya, ternyata penyebabnya adalah karena anakku enggak terbiasa membaca Al-Qur'an yang tafsirnya per kata sehingga jarak antar katanya agak jauh,  jadi kagok nyambung-nyambunginnya. Apalagi kalau kata berikutnya ada dibawahnya. Jadi sering diulang-ulang deh dan dianggap masih kurang lancar baca Al-Qur'annya. Oh baiklah kalau begitu. 

Dokumen Pribadi

Seperti biasa, aku enggak terlalu ambil pusing dengan nilai anakku. Lagian bukan karena anakku enggak bisa kok, cuma masalah kebiasaan aja dan lagi akan ada remedial, jadi enggak perlu khawatir berlebihan kan? Tinggal belajar dan mempersiapkan diri lagi aja.

Sejak kejadian itu, setiap hari, sehabis maghrib, aku mengajak anakku untuk membaca Al-Qur'an. Kakak-kakaknya juga sekalian aku ajak. Aku jadi ingin tahu juga perkembangan membaca Al-Qur'an mereka. Kayaknya, selama ini aku terlalu cuek dengan hal ini. Aku pikir, anak-anak sudah cukup belajar tahsin dari guru privat dan guru sekolah. Dan seingatku, saat mereka belajar dengan guru privat, mereka bisa mengaji dengan baik. Jadi aku merasa enggak perlu lagi mengecek bacaan mereka. Lagian kan anak-anak sudah besar, biar aja mereka mengaji sendiri. Begitu pemikiranku sebelumnya.

Lalu, aku pun mulai membiasakan untuk mengaji bersama-sama sehabis maghrib. Mereka membaca Al-Qur'an secara bergiliran. Aku mendengarkan dan memperhatikan bacaan mereka saat mengaji. Kebetulan aku juga pernah belajar tahsin di kantor, jadi aku bisa langsung praktekkan dan ajarkan ke anak-anak. 

Alhamdulillah, semuanya bisa berjalan dengan baik. Aku jadi tahu kemampuan anak-anakku. Kami pun bisa saling memberi tahu dan mengoreksi saat ada kesalahan. Dan si bungsu mulai bisa mengaji memakai Al-Qur'an dengan tafsir per kata. Walau pada awalnya dia masih kagok, tetapi lama-lama dia mulai terbiasa. Dan dia langsung lulus saat remedial. Alhamdulillah. 

Dokumen Pribadi

Ternyata segala sesuatu ada hikmahnya juga ya. Gara-gara enggak lulus tahsin, anakku jadi lebih rajin membaca Al-Qur'an, dan dia jadi bisa membaca Al-Qur'an yang bukan pegangannya.

Dokumen Pribadi

Terima kasih ya Allah, dengan adanya kejadian ini, aku jadi mempunyai kesempatan untuk memulai dan membiasakan hal yang baik untukku dan anak-anakku. Kami jadi rutin membaca Al-Qur'an bersama-sama. Kami juga jadi bisa saling memperbaiki bacaan Al-Qur'an kami. Semoga kami tetap istiqomah, lebih bagus dan lebih lancar membaca Al-Qur'annya. Aamiin.



0 Comments