Tanpa Asisten Rumah Tangga, Kenapa Ngga?

Sumber : Pixabay

Saat anak-anak masih kecil, aku memakai jasa asisten rumah tangga. Kayaknya aku ngga sanggup kalau harus mengerjakan semuanya sendiri. Dengan 3 orang anak dan yang 1 masih bayi lagi. Apalagi saat itu aku masih sering single fighter, karena suami sering mutasi ke luar kota. Kalau dihitung-hitung kurang lebih sudah 13 tahun kami menjalani Long Distance Married. Kebayang kan gimana rempongnya kalau ngga ada asisten rumah tangga.

Mencari asisten rumah tangga yang cocok itu ngga mudah. Apalagi yang benar-benar perhatian dan peduli sama anak-anak. Walaupun aku ngga sepenuhnya meninggalkan anak-anak sama asisten, karena ada ibu dan ayahku yang ikut menemani, tapi tetap aja ada perasaan was-was. Saat itu rumah kami letaknya bersebelahan dengan rumah orang tuaku dan di buat pintu tembus agar anak-anak bebas bolak-balik.

Sampai akhirnya, saat anakku yang bungsu berumur sekitar 2,5 tahun, orang tuaku pindah rumah. Ngga jauh sih, sekitar 20 menit aja dari rumahku.  Si bungsu aku antar ke rumah ibu kalau pagi, sedangkan yang lain sekolah.  Saat itu ada 2 orang asisten yang membantuku. Kayaknya cukup lah, toh anak-anak sekolah, jadi ngga bikin mereka repot sepanjang hari. Tapi tetap aja ngga senyaman saat masih dekat sama kakek dan neneknya.

Dan mulai deh semuanya agak kacau. Anak-anak yang tadinya aman dan bebas bolak-balik karena ada pintu tembus, akhirnya ngga bisa lagi. Dan si mbak pun mulai berani kasar sama anak-anak.  Saat itu anakku yang sulung sekitar kelas 4 SD. Terus dia bilang ngga mau ada mbak lagi di rumah. Ya, sempet ada peristiwa yang ngga mengenakkan sih sehingga membuat anak-anak merasa takut dan ngga aman juga buatku, khawatir terjadi sesuatu hal yang ngga diinginkan. Itupun setelah sempat gonta-ganti asisten beberapa kali. Tapi peristiwa yang ngga menyenangkan kembali terulang. Jadilah sejak saat itu aku ngga memakai jasa asisten rumah tangga lagi.

Cape? So pasti. Rasanya membagi waktu antara anak, rumah, kantor, dan lain-lain bener-bener membuat badanku remuk redam. Hahaha.... lebay banget. Akhirnya lama-lama mulai deh mengurangi standar, yang tadinya semua harus serba rapi, mulai dikurangi. Yang biasanya bawaannya pengen marah kalau rumah kotor dan berantakan, lama-lama mulai berdamai dengan keadaan. Yang kotornya aja dibersihin, yang berantakan sih asal bersih biarin aja. Pokoknya yang penting urusan dan kebutuhan anak terpenuhi dan aku pun bisa cukup istirahat. Pekerjaan yang bisa di tunda, ya di tunda dulu sampai kondisi memungkinkan. Walaupun katanya menunda-nunda pekerjaan itu ngga baik, tapi kayaknya kondisi tubuhku lebih layak buat diperhatiin. Pekerjaan ngga akan ada habisnya, tapi tenaga dan kesehatan ngga ada gantinya. Kan katanya kalau emak-emak ngga boleh sakit, karena kalau sampai sakit bisa berantakan semuanya.

Sekarang, anak-anak sudah besar. Sudah bisa diberi tugas untuk meringankan beban pekerjaan. Toh, rumah juga relatif lebih bersih dan rapi karena mainannya juga udah beda. Ngga corat-coret lagi, ngga main air, atau main kotor di dalam rumah lagi. Tapi ya namanya anak-anak suka ada aja alasannya biar bebas tugas. Kadang mereka juga sibuk dengan tugas-tugas sekolahnya. Jadi ngga bisa setiap hari juga disuruh-suruh. Jadi aku sih lebih fleksibel aja ngerjainnya. Saat sempat, sehat, dan mood lagi bagus baru deh dikerjain.

Nah, aku mau berbagi pengalamanku yang udah kurang lebih 10 tahun ngga pakai jasa asisten rumah tangga agar urusan rumah beres dan ngga bikin kita terlalu cape. Simak yuk!

1. Buat skala prioritas

Dokumen Pribadi

Segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhanku, suami, dan anak-anak menjadi prioritas utama buatku. Urusan perut pasti lah ya.  Menyiapkan sarapan dan lauk-pauk untuk makan siang dan malam sih harus banget. Terutama sarapan. Kasian kan kalau berangkat sekolah dan ngantor belum sarapan, takutnya nanti ngga konsen gara-gara laper. Kalau nunggu jam istirahat kan lumayan lama. Kalau untuk makan siang dan malam sih masih bisa beli atau pesan lewat aplikasi online. Apalagi kalau pas mereka mau bawa bekal. Jadi paling ngga sehari sebelumnya sudah harus siap bahan-bahan makanannya. Biasanya sih aku menyiapkan bahan makanan untuk satu minggu. Lalu untuk pakaian seragam, itu juga harus segera di cuci dan di setrika. Sehingga saat akan di pakai sudah tersedia.

2. Libatkan seluruh anggota keluarga

Dokumen Pribadi

Karena ngga ada asisten, semua harus ikut terlibat dalam urusan rumah. Berbagi tugas rumah seperti mencuci baju, menyetrika, menyapu, mengepel, mencuci piring, dan lain-lain. Biasakan juga agar semuanya disiplin, mulai dari hal-hal yang sepele, misalnya sisa makanan di piring harus di buang ke tempat sampah, sehingga yang nanti kebagian cuci piring ngga terlalu repot dan jijik. Menyimpan barang-barang pada tempatnya, agar mudah mencarinya.

3. Ajarkan anak untuk mandiri

Dokumen Pribadi

Mengajarkan mereka memasak nasi, menggoreng, atau membuat makanan dan minuman sendiri. Jadi saat mereka pulang dan ingin makan tinggal menggoreng atau mengeksekusi bahan makanan yang sudah disiapkan di kulkas. Dan biasakan  mereka untuk membereskan mainan atau peralatan sekolahnya sendiri. Pokoknya yang kira-kira bisa dilakukan sendiri, lakukan sendiri. Selain meringankan bebanku juga melatih mereka untuk mandiri.

4. Gunakan Jasa Laundry Kiloan

Sumber : Pixabay
Saat tubuh terasa lelah dan di rasa ngga sanggup untuk mencuci dan menyetrika pakaian sendiri, sekali-sekali ngga ada salahnya menggunakan jasa laundry kiloan. Selain harganya relatif murah, juga lebih praktis. Pakaian rapi, bersih, wangi, dan kita ngga cape.

5. Sewa tenaga orang lain

Sumber : Pixabay

Kadang kalau badan lagi ngga fit atau sedang malas untuk bersih-bersih rumah, boleh juga sewa tenaga orang lain untuk melakukannya. Biasanya aku suka meminta cleaning service kantor atau saudara untuk membantu di hari libur. Hitung-hitung berbagi rezeki dengan orang lain. Rumah bersih, kita ngga cape, orang lain juga senang karena dapat uang tambahan, jadi berkah untuk semua kan.

6. Makan di luar

Dokumen Pribadi

Setelah semuanya sibuk dengan aktivitas masing-masing di hari kerja,
boleh lah ya sekali-sekali makan di luar.  Biasanya sih kami makan di luar saat weekend. Sekalian family time dan wisata kuliner. Lumayan kan mengurangi cucian piring, ajang untuk kebersamaan keluarga, dan mencari suasana baru.

Nah, itu aja sih yang aku lakukan setelah 10 tahun tanpa asisten rumah tangga. Cape sih, tapi rasanya lebih nyaman dan bebas aja. Kita bisa mengatur sendiri kapan mau mengerjakannya. Dan anak-anak juga menjadi lebih mandiri. Jadi, tanpa asisten rumah tangga, kenapa ngga? Yang penting saling membantu, lebih fleksibel, dan enjoy aja menjalaninya. Target sih tetap ada, tapi ngga usah terlalu ngoyo. Saat alarm tubuh sudah bunyi pertanda butuh istirahat, sebaiknya berhenti aja. Emak-emak juga kan butuh me time. Semangat ya, Mak!

9 Comments

  1. Aku juga engga pakai ART sih. Paling seminggu sekali ada yg dateng, bantu setrika dan beres² rumah. Itu juga baru² aja engga punya ART. Susah cari yg jujur...

    ReplyDelete
  2. Saya juga tidak pake jasa ART Mbak. Paling saat mau lahiran dan 1 bulan pasca lahiran aja, setelah itu udah. Bebrapa tahun yang lalu sempat punya Mbak yang bantu nyetrika aja. Tapi dua 7 bulan yang lalu sakit. Jadi sudah gak kerja lagi. Tapi alhamdulillah, masih diberikan kesehatan buat ngurus pekerjaan rumah tangga sendiri. Sehat selalu ya Mbak, khususnya buat para Emak tangguh.

    ReplyDelete
  3. Akupun skrg gak pake ART mba. Emang remuk sih badannya hahaha tapi ya gimana lagi harus berjuang deh. Kalo masak dan bebersih rumah masih bs dihandle, kalo nyetrika aku nyerah dan pakek laundryan aja. Sisa waktu dan tenaga bisa dipake buat main ama anal atau ngedrakor wkwkwk.

    ReplyDelete
  4. Aku setuju dan sependapat denganmu mbak.... jika tanpa ART ya semua anggota keluarga kudu terlibat dan ambil bagian yaaa dalam bertanggung jawab urusan rumah

    ReplyDelete
  5. saya ga pakai ART s3jak sibungsu 4 th, krn ada kejadian dg si ART sampai si bungsu ga mau pakai lagi.

    Ya sdh kita bagi tugas, tp saya sdh siap makanan anak2 sampai maksi. Makan malam masak stlh saya pulang kantor,biasanya kita masak sama2.

    Sampai sekarang sdh 22 th ga pernah pakai ART, aman2 aja

    ReplyDelete
  6. Keluarga Yuni nggak pakai jasa ART. Emak Yuni santai saja, biasanya bakal nyuruh ini-itu-ono kalau pas melihat aku dan adikku sedang tidak melakukan apapun. HEhehe...

    ReplyDelete
  7. Saya pernah dalam posisi sulit tanpa ART. Harus mempersiapkan bekal anak sekolah,bekal untuk yang dititipkan ke penitipan anak, lalu pergi kerja. Badan rasanya remuk hiks. Waktu itu susah sekali cari ART, karena semua para perempuan kerja di pabrik baru. Dan akhirnya saya menyerah. Daripada anak dititip ke sana ke mari akhirnya saya memutuskan untuk resign sampai sekarang.

    ReplyDelete
  8. Saya pakai jasa ART hanya dulu saat si adek masih bayi aja. Secara Abangnya yang masih balita dan super aktif juga menuntut perhatian sangat.

    ReplyDelete
  9. Wah... ternyata wonder women swmua. Kereeen

    ReplyDelete